Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

MENGENANG AKSI PEMBANTAIAN WESTERLING DI SULAWESI SELATAN

Gambar
MENGENANG : AKSI PEMBANTIAN WESTERLING DI SULAWESI SELATAN (1946-1947) Catatan dari berbagai saksi pembantian itu. Mereka tidak mengenal mereka. Lalu ia berkata lagi: "Kalau tidak ada di antara kalian yang kenal Ali Malaka dan Mustafa, tiga orang akan ditembak." Pada saat yang sama, tiga orang di antara kami, yang tidak saya kenal, ditarik keluar dari kelompok, dan dua di antaranya ditembak mati di depan mata kami. Yang ketiga diperintahkan kembali ke kelompok.  Kemudian para prajurit di kelompok yang berkumpul mulai menembak mati orang-orang satu per satu. Saya sendiri melihat enam orang ditembak mati. Setelah itu, kami harus berjalan berbaris melewati seorang anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun, dan anak yang ditunjuk anak laki-laki itu ditarik keluar dari barisan, dan orang-orang ini juga ditembak mati. Dan begitu seterusnya, sampai di depan mata kami sendiri sekitar seratus orang ditembak mati'” RIS Sr. Atmadja, seorang agen real estate di Makassar , b...

JEJAK DIASPORA BUGIS MAKASSAR DI BERBAGAI WILAYAH

Gambar
JEJAK DIASPORA BUGIS-MAKASSAR DI BERBAGAI WILAYAH Di balik keberanian mereka menjelajah lautan, orang Bugis-Makassar meninggalkan jejak panjang di berbagai wilayah di luar Sulawesi Selatan. Jejak ini bukan sekadar jejak kaki, tapi juga warisan budaya, bahasa, kekuasaan, dan identitas yang masih bertahan hingga hari ini. 1. Kalimantan dan Sumatera Di Kalimantan Selatan dan Timur, komunitas Bugis telah menetap sejak abad ke-17. Mereka datang sebagai pedagang dan pelaut, dan banyak yang menjadi pemuka masyarakat. Kota seperti Banjarmasin dan Samarinda memiliki kampung-kampung Bugis yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di Sumatera, khususnya Riau dan Kepulauan Riau, peran Bugis sangat menonjol. Raja-raja Bugis bahkan menjadi bagian dari silsilah Kesultanan Riau-Lingga. Tokoh terkenal seperti Raja Ali Haji, pencipta tata bahasa Melayu pertama, berasal dari keluarga Bugis. 2. Semenanjung Malaya (Malaysia dan Singapura) Pada abad ke-18, lima bersaudara dari Bugis (termasuk Dae...

FOTO MILITER BELANDA DI PARE PARE

Gambar
Foto Militer Belanda di Pare-Pare sedang berpose setelah kampanye militer dengan bendera bergambar Ayam Jantan. (Foto tahun 1905) Mungkinkah ini adalah Bendera kerajaan Gowa yang asli?  Tentang Perang Gowa dan Expedisi Militer Belanda pada Tahun 1905. Pada tanggal 15 Oktober 1905, gubernur Sulawesi mengirim sebuah surat kepada raja Gowa, I Makkulau Karaeng Lembagaparang, mengundangnya untuk bernegosiasi di Ujung Pandang. Surat tersebut disertai ultimatum bahwa jika dia tidak menanggapinya pada 18 Oktober, Gowa akan dikepung. Benteng Gowa di Balangnipa, Camba, Pangkajene dan Galesong diperkuat untuk melawan Belanda. I Makkulau mengabaikan ultimatum tersebut. Ketika pasukan Belanda di bawah Gubernur Kroesen mendekati istananya di Jongaya, dia diminta lagi untuk tunduk, tetapi ia malah mundur ke pegunungan dengan petinggi dan pengadil kerajaan, dengan harapan dapat menarik Belanda ke medan perang yang tidak menguntungkan bagi mereka. Pada tanggal 20 Oktober Belanda menyera...

LATENRI TATTA ARUNG PALAKKA

Gambar
𝙈𝙚𝙣𝙚𝙇𝙪𝙨𝙪𝙧𝙞 𝙅𝙚𝙟𝙖𝙠 𝙇𝙖 𝙋𝙖𝙩𝙖𝙪 𝙈𝙖𝙩𝙖𝙣𝙉𝙖 𝙏𝙞𝙠𝙠𝙖''  Pada Peranannya MeRenkonsiLiasi Para Datu Arung Dan Karaeng Di Tanah SuLawesi.  𝐊𝐞𝐛𝐚𝐧𝐠𝐤𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐋𝐚 𝐓𝐞𝐧𝐫𝐢 𝐓𝐚𝐭𝐭𝐚' 𝐀𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐏𝐚𝐋𝐚𝐤𝐤𝐚  Yang Tak Lain Paman Dari La Patau  DiaLah : 𝙋𝙖𝙝𝙇𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙎𝙚𝙟𝙖𝙩𝙞  Sang Penguasa Di Tanah SuLawesi  MeLiputi Semua SuLawesi SeLatan Dan Luar SuLawesi SeLatan KaLa ini.  𝙈𝙚𝙣𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙏𝙞𝙩𝙞𝙠 𝘽𝙖𝙇𝙞𝙠 𝙈𝙖𝙨𝙪𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙀𝙧𝙖 𝘽𝙖𝙧𝙪 𝘿𝙞 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙎𝙪𝙇𝙖𝙬𝙚𝙨𝙞.  *𝙍𝙖𝙟𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙚 𝙆𝙚-𝙓𝙑 KiLas BaLik :  Cucu We BanriGau' Ratu Kerajaan Bone  La Maddaremmeng Raja Bone La Tenri Aji Datu Soppeng Pangeran Bone Putra La PottoBunne Dengan La Tenri Sui' La 𝙏𝙚𝙣𝙧𝙞 𝙏𝙖𝙩𝙩𝙖' Petta MaLampe'E Gemme'Na To Unru' Datu Marioriwawo 𝘼𝙧𝙪𝙣𝙜 𝙋𝙖𝙇𝙖𝙠𝙠𝙖 Karaeng Serang 𝙈𝙖𝙣𝙜𝙖𝙠𝙤𝙀 Raja Bone Ke XV DatunNa Tana OgiE' 𝙎𝙪𝙇𝙩𝙖𝙣 𝙎𝙖'𝙙𝙪𝙙𝙙𝙞𝙣  𝐌𝐚𝐭𝐢𝐧𝐫𝐨𝐄 𝐑𝐢 𝐁𝐨...