Postingan

MENGENANG AKSI PEMBANTAIAN WESTERLING DI SULAWESI SELATAN

Gambar
MENGENANG : AKSI PEMBANTIAN WESTERLING DI SULAWESI SELATAN (1946-1947) Catatan dari berbagai saksi pembantian itu. Mereka tidak mengenal mereka. Lalu ia berkata lagi: "Kalau tidak ada di antara kalian yang kenal Ali Malaka dan Mustafa, tiga orang akan ditembak." Pada saat yang sama, tiga orang di antara kami, yang tidak saya kenal, ditarik keluar dari kelompok, dan dua di antaranya ditembak mati di depan mata kami. Yang ketiga diperintahkan kembali ke kelompok.  Kemudian para prajurit di kelompok yang berkumpul mulai menembak mati orang-orang satu per satu. Saya sendiri melihat enam orang ditembak mati. Setelah itu, kami harus berjalan berbaris melewati seorang anak laki-laki berusia sekitar 13 tahun, dan anak yang ditunjuk anak laki-laki itu ditarik keluar dari barisan, dan orang-orang ini juga ditembak mati. Dan begitu seterusnya, sampai di depan mata kami sendiri sekitar seratus orang ditembak mati'” RIS Sr. Atmadja, seorang agen real estate di Makassar , b...

JEJAK DIASPORA BUGIS MAKASSAR DI BERBAGAI WILAYAH

Gambar
JEJAK DIASPORA BUGIS-MAKASSAR DI BERBAGAI WILAYAH Di balik keberanian mereka menjelajah lautan, orang Bugis-Makassar meninggalkan jejak panjang di berbagai wilayah di luar Sulawesi Selatan. Jejak ini bukan sekadar jejak kaki, tapi juga warisan budaya, bahasa, kekuasaan, dan identitas yang masih bertahan hingga hari ini. 1. Kalimantan dan Sumatera Di Kalimantan Selatan dan Timur, komunitas Bugis telah menetap sejak abad ke-17. Mereka datang sebagai pedagang dan pelaut, dan banyak yang menjadi pemuka masyarakat. Kota seperti Banjarmasin dan Samarinda memiliki kampung-kampung Bugis yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Di Sumatera, khususnya Riau dan Kepulauan Riau, peran Bugis sangat menonjol. Raja-raja Bugis bahkan menjadi bagian dari silsilah Kesultanan Riau-Lingga. Tokoh terkenal seperti Raja Ali Haji, pencipta tata bahasa Melayu pertama, berasal dari keluarga Bugis. 2. Semenanjung Malaya (Malaysia dan Singapura) Pada abad ke-18, lima bersaudara dari Bugis (termasuk Dae...

FOTO MILITER BELANDA DI PARE PARE

Gambar
Foto Militer Belanda di Pare-Pare sedang berpose setelah kampanye militer dengan bendera bergambar Ayam Jantan. (Foto tahun 1905) Mungkinkah ini adalah Bendera kerajaan Gowa yang asli?  Tentang Perang Gowa dan Expedisi Militer Belanda pada Tahun 1905. Pada tanggal 15 Oktober 1905, gubernur Sulawesi mengirim sebuah surat kepada raja Gowa, I Makkulau Karaeng Lembagaparang, mengundangnya untuk bernegosiasi di Ujung Pandang. Surat tersebut disertai ultimatum bahwa jika dia tidak menanggapinya pada 18 Oktober, Gowa akan dikepung. Benteng Gowa di Balangnipa, Camba, Pangkajene dan Galesong diperkuat untuk melawan Belanda. I Makkulau mengabaikan ultimatum tersebut. Ketika pasukan Belanda di bawah Gubernur Kroesen mendekati istananya di Jongaya, dia diminta lagi untuk tunduk, tetapi ia malah mundur ke pegunungan dengan petinggi dan pengadil kerajaan, dengan harapan dapat menarik Belanda ke medan perang yang tidak menguntungkan bagi mereka. Pada tanggal 20 Oktober Belanda menyera...

LATENRI TATTA ARUNG PALAKKA

Gambar
๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™š๐™‡๐™ช๐™จ๐™ช๐™ง๐™ž ๐™…๐™š๐™Ÿ๐™–๐™  ๐™‡๐™– ๐™‹๐™–๐™ฉ๐™–๐™ช ๐™ˆ๐™–๐™ฉ๐™–๐™ฃ๐™‰๐™– ๐™๐™ž๐™ ๐™ ๐™–''  Pada Peranannya MeRenkonsiLiasi Para Datu Arung Dan Karaeng Di Tanah SuLawesi.  ๐Š๐ž๐›๐š๐ง๐ ๐ค๐ข๐ญ๐š๐ง ๐‹๐š ๐“๐ž๐ง๐ซ๐ข ๐“๐š๐ญ๐ญ๐š' ๐€๐ซ๐ฎ๐ง๐  ๐๐š๐‹๐š๐ค๐ค๐š  Yang Tak Lain Paman Dari La Patau  DiaLah : ๐™‹๐™–๐™๐™‡๐™–๐™ฌ๐™–๐™ฃ ๐™Ž๐™š๐™Ÿ๐™–๐™ฉ๐™ž  Sang Penguasa Di Tanah SuLawesi  MeLiputi Semua SuLawesi SeLatan Dan Luar SuLawesi SeLatan KaLa ini.  ๐™ˆ๐™š๐™ฃ๐™Ÿ๐™–๐™™๐™ž ๐™๐™ž๐™ฉ๐™ž๐™  ๐˜ฝ๐™–๐™‡๐™ž๐™  ๐™ˆ๐™–๐™จ๐™ช๐™ ๐™ฃ๐™ฎ๐™– ๐™€๐™ง๐™– ๐˜ฝ๐™–๐™ง๐™ช ๐˜ฟ๐™ž ๐™๐™–๐™ฃ๐™–๐™ ๐™Ž๐™ช๐™‡๐™–๐™ฌ๐™š๐™จ๐™ž.  *๐™๐™–๐™Ÿ๐™– ๐˜ฝ๐™ค๐™ฃ๐™š ๐™†๐™š-๐™“๐™‘ KiLas BaLik :  Cucu We BanriGau' Ratu Kerajaan Bone  La Maddaremmeng Raja Bone La Tenri Aji Datu Soppeng Pangeran Bone Putra La PottoBunne Dengan La Tenri Sui' La ๐™๐™š๐™ฃ๐™ง๐™ž ๐™๐™–๐™ฉ๐™ฉ๐™–' Petta MaLampe'E Gemme'Na To Unru' Datu Marioriwawo ๐˜ผ๐™ง๐™ช๐™ฃ๐™œ ๐™‹๐™–๐™‡๐™–๐™ ๐™ ๐™– Karaeng Serang ๐™ˆ๐™–๐™ฃ๐™œ๐™–๐™ ๐™ค๐™€ Raja Bone Ke XV DatunNa Tana OgiE' ๐™Ž๐™ช๐™‡๐™ฉ๐™–๐™ฃ ๐™Ž๐™–'๐™™๐™ช๐™™๐™™๐™ž๐™ฃ  ๐Œ๐š๐ญ๐ข๐ง๐ซ๐จ๐„ ๐‘๐ข ๐๐จ...

OPERASI INTELIJEN MAJAPAHIT

Gambar
Operasi Intelijen Gadjah Mada Menyelamatkan Raja Majapahit Di tengah dinamika kekuasaan Kerajaan Majapahit yang menerapkan sistem desentralisasi, gelombang pemberontakan menjadi bayang-bayang yang tak pernah sepenuhnya sirna. Sejak masa awal pemerintahan Raden Wijaya, sudah tercatat berbagai insiden pemberontakan, seperti yang dilakukan oleh Nambi dan Wirajaya pada tahun Saka 1238 (1316 Masehi). Namun, dari sekian banyak pemberontakan, terdapat satu episode yang mencuat bukan hanya karena skalanya, melainkan karena munculnya seorang tokoh muda yang kelak menjadi legenda: Gadjah Mada. Tahun Saka 1240 dan 1241, Majapahit kembali diguncang. Kali ini pemberontakan dipimpin oleh dua tokoh: Ra Semi dan Ra Kuti. Nama Ra Semi tercatat sebagai pejabat tinggi bergelar Rakryan Semi, yang pernah berpihak kepada Nambi. Setelah pasukan Nambi dilumpuhkan, Ra Semi tidak lenyap begitu saja—ia justru bergabung dengan Ra Kuti dan memperbesar potensi ancaman terhadap stabilitas Majapahit. Menu...

KORBAN EKSPEDISI BONI SULAWESI SELATAN

Gambar
Korban "Ekspedisi Boni" , Sulawesi Selatan (Badjowรฉ dan Watamponรฉ) dari tahun 1905-1906 ." sumber foto ; Nederlands Instituut voor Militaire Historie Ekspedisi Boni atau Ekspedisi Sulawesi Selatan (bahasa Belanda: Zuid-Celebes Expeditie) tahun 1905, juga disebut sebagai Perang Bone Keempat atau Perang Gowa (Bundaka ri Gowa), dilakukan oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) untuk memaksa bagian selatan Sulawesi (Celebes) menandatangani Korte Verklaring (Pernyataan atau Deklarasi Singkat), perjanjian standar di mana penguasa asli Indonesia dipaksa untuk setuju menerima kedaulatan Belanda.  Menurut sejarawan Belanda tertentu, ekspedisi itu merupakan "kewajiban", karena Belanda memiliki tanggung jawab atas hukum dan ketertiban.  Seorang sejarawan Indonesia berpendapat bahwa ini sebenarnya strategis: Sulawesi selatan adalah "kunci" untuk mengendalikan apa yang disebut Timur Besar. Ada juga motif ekonomi: untuk memperluas kekuatan pengumpul...

Kerajaan Bone Dari Masa Ke Masa

Gambar
RAJA-RAJA KERAJAAN BONE DARI MASA KEMASA MANURUNGE RI MATAJANG, MATA SILOMPOE, 1330-1365, Pria LA UMMASA, PETTA PANRE BESSIE, 1365-1368, Pria LA SALIYU KORAMPELUA, 1368-1470, Pria WE BANRIGAU, MALLAJANGE RI CINA, 1470-1510, Wanita LA TENRISUKKI, MAPPAJUNGE, 1510-1535, Pria LA ULIYO BOTE-E, MATINROE RI ITTERUNG, 1535-1560, Pria LA TENRIRAWE BONGKANGE, MATINROE RI GUCINNA, 1560-1564, Pria LA INCA, MATINROE RI ADDENENNA, 1564-1565, Pria LA PATTAWE, MATINROE RI BETTUNG, 1565-1602, Pria WE TENRITUPPU, MATINROE RI SIDENRENG, 1602-1611, Wanita LA TENRIRUWA, SULTAN ADAM, MATINROE RI BANTAENG, 1611-1616, Pria LA TENRIPALE, MATINROE RI TALLO, 1616-1631, Pria LA MADDAREMMENG, MATINROE RI BUKAKA, 1631-1644, Pria LA TENRIAJI, ARUNGPONE, MATINROE RI PANGKEP, 1644-1672, Pria LA TENRITATTA, DAENG SERANG, MALAMPE-E GEMME’NA, ARUNG PALAKKA, 1672-1696, Pria LA PATAU MATANNA TIKKA, MATINROE RI NAGAULENG, 1696-1714, Pria WE BATARITOJA, DATU TALAGA ARUNG TIMURUNG, SULTANAH ZAINAB ZULKIYA...